Tuesday, September 22, 2020

Sekda

Lebaran Ditengah Pandemi, "Bersiap Memasuki Normal Baru"

Written by  May 24 2020
Azmar Rahayu ST MM Azmar Rahayu ST MM
OPINI
Oleh : Azmar Rahayu, ST MM
Sekretaris ISNU ( Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama ) Kota Baubau
 
Ada pepatah lama mengatakan "Yang paling sulit dari merubah prilaku adalah ketika kita merasa tidak ada yang perlu dirubah."
Kalimat ini menggambarkan kondisi hari ini betapa masyarakat kita masih banyak yang tidak perduli bahkan cenderung melawan apa yang seharusnya dilakukan secara bersama-sama (pembatasan sosial) demi kebaikan bersama. Saya melihat ini ibarat sebuah bom waktu yang akan meledak 5 sampai 10 hari ke depan yang artinya puncak Pandemi Covid-19 ini baru akan dimulai pasca Lebaran.
 
Yang menjadi keresahan saya adalah bahwa saat ini episentrum wabah telah bergeser tidak lagi di Jakarta atau Kota-kota besar lainnya namun ke daerah-daerah di berbagai wilayah yang sebagian besar minim (bahkan tidak memiliki) tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang memadai! 
Ketika negara-negara lain sudah mulai memperlihatkan kelandaian kurva penyebaran bahkan telah berhasil mengendalikan pandemi sampai di titik 0, Indonesia terus menunjukan kurva positif secara signifikan dari hari ke hari khususnya menjelang lebaran.
 
Inilah yang menjadi penyebab utama tingginya angka persebaran, kerumunan terjadi dimana-mana. Begitu sulitnya membatasi keinginan masyarakat kita untuk memeriahkan lebaran, begitu sulitnya mengajak masyarakat kita untuk memikirkan akibat dari prilaku tidak disiplin ini terhadap para tenaga medis yang berada di garda terdepan. Bagaimana jika semua tenaga medis kita benar-benar mengatakan #terserah lalu memilih untuk tidak mau lagi terlibat lebih jauh? Pernakah kita membayangkan jika sampai terjadi kondisi terburuk seperti itu?
 
Walaupun ditengah tidak terkendalinya situasi, saat ini pemerintah kita justru sedang mempersiapkan protokol untuk memulai kehidupan baru "berdampingan" dengan virus Corona. Sekolah, kantor, pusat-pusat perekonomian dan pusat kegiatan masyarakat lainnya berangsur-angsur akan dibuka kembali, tujuannya adalah untuk relaksasi perekonomian yang sudah sangat terpukul dalam 3 bulan terakhir karena hal.serupa juga sudah mulai dijalankan oleh banyak negara lain di dunia bahkan Italia dan Amerika sekalipun yang masih tinggi tingkat penularannya namun mereka sudah mengklaim dapat mengendalikan keadaan dengan protokol yang ketat dan telah dibuktikan dengan sudah melandainga kurva persebaran dan tingkat kematian.
 
Menurut saya Indonesia belum bisa berada pada posisi stretching, kita masih harus defense. Karena pertahanan yang rapuh justru akan mendatangkan petaka yang lebih besar nantinya jika masyarakat kita belum benar-benar siap dengan "prilaku normal baru". Bahasa sederhananya "Sedang dibatasi saja masih tetap dilanggar apalagi jika diberi kelonggaran?"
 
Lagi-lagi perlu adanya sinergitas yang baik antara semua stake holders yang ada, perilaku masyarakat yang sulit dirubah ini tentu dipengaruhi faktor lainnya juga, jika kita mengabaikan seseorang bisa jadi karena orang itu juga suka mengabaikan kita (hukum kausalitas). Bisa jadi mental bebal masyarakat ini dikarenakan sikap pemerintah baik di pusat maupun daerah yang juga suka abai dengan kepentingan masyarakat itu sendiri, atau bisa jadi ada yang salah pada cara dan pola Pemerintah dalam menanganinya sehingga terkesan tidak efektif, tidak tepat sasaran dan cenderung tidak punya skala prioritas!
 
Inilah yang saya rasakan dan saya amati, betapa tumpang tindihnya aturan dan tidak kompaknya antar lembaga yang ada. Bagaimana bisa mendisiplinkan masyaralat banyak jika lembaga yang mengurusi masyarakat saja juga tidak bisa bersinergi satu dan yang lainnya. Baik pusat maupun daerah punya kebijakan dan kewenangannya masing-masing, ada yang sinkron ada juga yang bertolak belakang. Juga soal eksekusi ada yang tepat sasaran ada juga yang salah sasaran.
 
Tentu tidak mudah mengendalikan situasi ini ditambah persoalan-persoalan turunan lainnya yang juga menuntut untuk segera diselesaikan, namun Pemimpin yang hebat bisa dilihat ketika dia mampu mengendalikan situasi dimasa-masa sulit. Kita masih banyak punya resources, masih punya semangat dan keyakinan bahwa kita mampu mengendaliakn situasi dan keluar dari zona wabah ini menuju "normal baru" dengan segala tantangannya. Namun semua butuh saling sinergi dan saling percaya. Jangan sampai distrust ini terjadi berlarut-larut karena akan terus menarik kita lebih dalam ke pusaran wabah dan terus menuju ke puncak Pandemi.
 
Sudah saatnya semua pihak bisa melakukan introspeksi, tentu dimulai dari bagaimana kita bisa mendisiplinkan diri dan melatih kepekaan sosial kita tanpa harus menyalah-nyalahkan pihak yang lain, hanya dengan bersama-sama kita semua dapat keluar dari wabah ini dengan selamat,  Firman Allah SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra'd:11). ... “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui,“ (QS. Al-Baqarah: 216).
 
Mari kita berdoa semoga bangsa ini segera menemukan solusi terbaik dan bersama-sama keluar dari segala kesulutan, karena sesungguhnya di dalam setiap kesempitan pasti ada kesempatan yang lapang, dan selalu ada jalan keluar dalam setiap kesulitan dan permasalahan yang ada. 
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan sesunggunya bersama kesulitan pasti ada kemudahan." (QS. Ash-Sharh 94-6,7)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H.
 
Mohon maaf lahir dan batin.
 
 
Rate this item
(0 votes)
Read 379 times
Login to post comments

Kontak Redaksi


PT. Media Buton Raya
Alamat Kantor Redaksi :
Jln. Dayanu Ikhsanuddin,
Perum Palm Beach Blok 4, No. 17A,
Kel. Sulaa, Kec. Betoambari, Kota Baubau,
Provinsi Sulawesi Tenggara, Kode Pos 93700
TELEPON/WA 0822 9106 0301 / 0822 9168 7184 

Visitors Counter

3329592
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1400
6488
14926
3266140
127193
166491
3329592